Posts

GM(6)

Ya… Ya…” Gara-gara Bella menggebrak meja, semua mata beralih menatap mereka. Diamon Legita tergugah minatnya mendekati mereka. Begitu juga Iris Chaniati. “ Ada apa, Bel ?” tanya Diamon. “ Si  item jelek ini ketangkap basah lagi menatap Rio dengan penuh nafsu.” Adu Bella “ Benarkah ?” tanya Iris pura-pura gak percaya. “ Masak omongan gua kalian gak percaya ?” seru Bella. Sebetulnya, di hari biasa Bella, Iris dan Diamon saling bersaing buat mendapatkan Rio. Tapi, kalo sudah menyangkut Celin, mereka kompak ngerjain Celin. “ Giring dia ke toilet !” Diamon memulai. Irish Mengangguk. Bella meny etuju i . “ Ayo, ikut kami ke toilet !” Iris mendorong dari belakang. Bella menggapit tangan Celin dari kiri. Diamon mengawal dari kanan.  Sampai di toilet Bella melepaskan gapitan dan mendorong Celin  se hingga kepala Celin membentur ke dinding dengan keras. Celin hampir terjatuh kalo engga berpegangan ke dinding. Bela maju lagi  menjambak rambut dan menarik n...

CBS (7)

Fikri tidak menjawab. Aku kaget mendengar perkataan kak Ranti. Sudah dua tahun kak Ranti dan bang Robby menikah. Kini baru pertama kali hamil, dan semalaman kak Ranti tidak tidur. “ Kak Ranti sedang hamil ?” tanyaku sambil menggenggam tangannya. Kak Ranti mengangguk. Aku ingin mengucapkan selamat, tapi karena situasinya tak cocok, aku diam saja. “ Kalau sedang hamil, kak Ranti tak boleh kurang tidur. Kak Ranti pulanglah beristirahat. Sudah semalaman kak Ranti tak tidur, nanti mengganggu kandungan kakak. Kujaga Mama di sini bersama Fikri. Pulanglah untuk beristirahat, kak, “ kataku. Bang Robby membenarkan kata-kataku. Akhirnya kak Ranti bersedia pulang. Dena ikut mereka pulang. Tinggallah aku bersama Fikri di ruang perawatan itu. Aku diam saja . Fikri juga diam. Sejak  kecil kami kurang akrab. Aku lebih akrab dengan kak Ranti. “ Bagaimana kondisi Mama menurut dokter ?” tanya Fikri setelah ter diam cukup lama. Kuceritakan apa yang kuketahui . Kugambarkan seperti...

CBS(6)

Ketika aku bangun, Kulihat jam tanganku sudah menunjukkan angka 10. Aku mandi dan berganti pakaian sambil meneguk segelas teh , k emudian berangkat ke rumah sakit. Kak Ranti ternyata belum pulang. Setibanya di rumah sakit, kulihat tubuh Mama yang masih terbaring diam. Layar EKG menunjukkan gerakan jantung Mama yang teratur. Mama sepertinya hanya sedang tidur, bukan kecelakaan, bukan pasien luka parah yang kritis. Kupandangi kak Ranti, Bang Robby, dan Dena yang duduk berderet di sofa yang terletak agak jauh dari ranjang pasien. “ Kak Ranti ngga pulang ?” tanyaku. Belum sempat kak Ranti menjawab, pintu kamar terbuka. Seseorang melongok ke dalam kamar, Fikri, abangku. “ Maaf, aku agak terlambat karena semalam ketinggalan kereta.” Kata  Fikri sambil berjalan ke arah pembaringan. Ia menatap wajah Mama yang membengkak , l alu menatap seluruh tubuh Mama yang penuh luka. Fikri  terdiam, ter bengong, dan mulai meneteskan airmata. “ Kenapa bisa begini !!! !” serunya di a...

GM (5)

11 January 2008 Sekolah sudah bermula. Celin  menyiapkan diri  menghadapi ledekan temannya dengan menyontek semboyan hidup Chaki dan Vevey : Keraskan hati, k uatkan iman, tebalkan muka, bulatkan tekad, butakan mata, dan hidup harus tetap berlanjut. Tapi hari ini sejak tiba di sekolah belum ada yang meledeknya. Teman temannya terlalu sibuk bercerita tentang liburan mereka ke Jerman, piknik  ke Singapura,  t aon baru di Sidney, atau wisata belanja di Hongkong. Gelatius memang sekolah favorit, sekolah mahal, sekolah hebat, sekolah anak orang kaya. Mana sanggup anak klas bawah disuruh membayar SPP   Lima ratus lima puluh ribu ditambah biaya ekskul hebat hebat seperti Bahasa Mandarin, Basket, Renang, Cheerleade r , Teater dan  macem macem lagi.  70 persen siswa Gelatius itu anak orang kaya, sisanya golongan menengah ke atas. Tak heran kalo muridnya cantik cantik, ganteng ganteng, putih putih. Cuma Celin saja yang kulitnya item. Itu pula sebabnya dia j...

GM(4)

Celin tertawa kesenangan. Senang banget d ia bisa membuat Chaki keki. Pasti Chaki menganggapnya cewek yang nyebelin. Untung aja dia bertetangga dengan Chaki. Tetangga yang cukup jauh sih, karena beda dua blok.  Chaki orangnya juga gak gampang gampang bergaul. Tamperamental  sih. Selain itu, mo tau julukan Chaki? Einteins gadungan ! Itu karena otaknya yang encer kayak Einteins.  Sedangkan Vevey dijuluki pulsa berjalan karena kemana mana dia bawa hape buat jualan pulsa. Cuman dengan Chaki dan Vevey saja  Celin bergaul erat. Kenapa? Ya karena cuman Chaki dan Vevey saja yang gak pernah meledeknya item dan jelek. *** *** Sore jam 4. Rumah Celin. Chaki datang dengan mobil bututnya dan dia membawa serta sepuluh lembar genteng berwarna merah. Sepuluh lembar ? Emangnya dia kira seluruh genteng kamar mandi harus diganti. Dasar Einsteins gadungan. Telinganya tuli kalee. “ Aduh, Chak ! kok sore banget. ? “ “ Udah dimintai tolong masih juga diomelin. Dasar paya...

CBS(5)

aku ingin sekali membuat wajah si penabrak seperti wajah Mama saat ini kalau kutahu atau ketemu penabrak itu. Kumatikan ponselku agar batere-nya t ak cepat habis. Kak Ranti duduk di kursi, entah berpikir apa, kedua matanya tampak menerawang. Aku terbayang masa lalu kami. Dulu kami tinggal di Cirebon. Ayahku pelaut, keluarga kami keluarga nelayan. Tapi suatu hari Papa pergi melaut dan tidak kembali lagi. Kata orang, kapal Papa tenggelam dihantam ombak besar. Waktu itu usiaku baru 8 tahun. Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengan papa . M asih hidupkah dia? A tau seperti kata orang, sudah meninggal ditelan gelombang .  Mama mengambil alih tugas sebagai kepala keluarga. Mama punya sedikit keahlian menjahit dan bekerja pada seorang penjahit. Kak Ranti membantu Mama, sedangkan aku bertugas sebagai pengantar pakaian yang sudah siap di jahit ke toko pak Rody, sang pemilik Tailor. Begitulah keluarga kami bertahan hidup.  Fikri saat itu ingin kuliah, tapi Mama tak punya bia...

CBS(4)

Sampai di rumah Dena sudah menungguku. Begitu aku tiba, d ia langsung bertanya. “ Kok pulang, kak Ras ? Siapa yang menemani Tante Fani?” tanya Dena seakan-akan menegurku karena membiarkan Mama sendirian. “ Kak Ranti dan bang Robby sudah datang, mereka menemani Mama. Aku pengen mandi dulu,” kataku dan langsung masuk ke kamarku mengacuhkan Dena. Kulemparkan kunci ke atas ranjang dan membuka pakaianku. Aku mandi dengan segera, berpakaia , n dan kembali menyambar kunci mobil. “ Makan dulu, kak, ” panggil Dena ketika melihatku keluar dari kamar. Di a sedang duduk di meja makan. Tapi nasi di depannya sepertinya tidak disentuh, cuma diaduk- aduk. “ Aku tak lapar, makanlah dulu, De.” Kataku. “ Pasti dari siang kak Raski belum makan, makanlah sedikit agar jangan sakit.” kata Dena. “ Tak ada selera, De.” “ Kalau tak ada selera, kubuatkan segelas susu,  “ tanpa menunggu jawabanku Dena langsung ke dapur   membuatkan segelas susu yang kemudian disodorkan padaku. Kut...