CBS(6)
Ketika aku bangun, Kulihat jam tanganku sudah
menunjukkan angka 10. Aku mandi dan berganti pakaian sambil meneguk segelas teh, kemudian berangkat ke rumah sakit.
Kak Ranti ternyata belum pulang.
Setibanya di rumah sakit, kulihat
tubuh Mama yang masih terbaring diam. Layar EKG menunjukkan gerakan jantung
Mama yang teratur. Mama sepertinya hanya sedang tidur, bukan kecelakaan, bukan
pasien luka parah yang kritis.
Kupandangi kak Ranti, Bang Robby,
dan Dena yang duduk berderet di sofa yang terletak agak jauh dari ranjang
pasien.
“ Kak Ranti ngga pulang ?” tanyaku. Belum sempat kak Ranti
menjawab, pintu kamar terbuka. Seseorang melongok ke dalam kamar, Fikri,
abangku.
“ Maaf, aku agak terlambat karena semalam ketinggalan
kereta.” Kata Fikri sambil berjalan ke
arah pembaringan. Ia menatap wajah Mama yang membengkak, lalu menatap seluruh tubuh Mama yang penuh luka.
Fikri terdiam, terbengong, dan mulai meneteskan airmata.
“ Kenapa bisa begini !!!!” serunya di antara
isaknya. Aku tak tahu harus menjawab apa. Aku terdiam. Dena maju ke arah Fikri dan menceritakan apa yang telah menimpa
Mama. Fikri terpekur mendengar cerita Dena. Kemudian dengan wajah geram dia berjalan ke arahku,
menatapku sambil berkata,
“ Semua gara-gara kamu ! semua
gara-gara kamu ! Mama baik-baik tinggal
di Cirebon ! kamu ajak ke mari untuk menerima penderitaan seperti ini !
Gara-gara kamu baru Mama jadi begini !” tuding Fikri.
Aku terdiam mendengar tuduhan
Fikri. Perasaan bersalah mulai menderaku. Apakah benar kalau tak kuajak ke
Jakarta, Mama tidak akan mengalami kecelakaan seperti ini? Aku terdiam tak
mampu menepis tuduhan Fikri.
“ Maafkan aku…” kataku pelan.
“ Dari kecil Mama paling sayang
padamu, tapi kamu malah membuat Mama menderita begini. Kamu.--- ” Fikri tidak meneruskan kata-katanya, ia
menyerbu ke arahku, mencengkram kerah bajuku. Aku pasrah menghadapi kemarahan
Fikri. Dia dari
kecil memang agak emosional.
“ Hentikan! Hentikan,
Fikri! kamu gila! Hentikan!”
teriak kak Ranti. Bang Robby segera menangkap Fikri dan menjauhkannya dariku.
Aku diam dan menundukkan wajah, pasrah.
“ Sabar bang, sabar! semua ini
musibah. Ini
suratan takdir. Jangan
saling menyalahkan. Kita harus tabah dalam menghadapi cobaan ini.” Kata Bang Robby
menasehati Fikri.
“ Tidak ! ini salah dia ! Mama suka
ketenangan, suka suasana Cirebon yang tidak ramai. Tapi dia sengaja membawa
Mama kemari.
Jakarta terlalu ribut, kendaraannya terlalu padat. Itulah sebabnya Mama
kecelakaan. Semua ini gara-gara dia !” Fikri berkata setengah berteriak sambil
menudingkan jarinya kearahku.
Aku tertunduk dengan perasaan bersalah. Aku tidak berani
membantah.
“ Enak saja kamu menuduh Raski penyebab semua ini, Kamu
sendiri tak pernah berusaha mengajak Mama tinggal bersamamu! Siapa yang tega melihat Mama tinggal sendirian di Cirebon
!” kak Ranti bersuara dengan keras, dan kata kata itu kedengaran seperti
membelaku. Fikri terlihat kesal mendengar kata-kata kak Ranti. Ia melepaskan
diri dari pegangan bang Robby dan berjalan keluar dari kamar dengan wajah
kesal. Semua terdiam atas kejadian yang barusan terjadi. Aku menghampiri kak
Ranti.
“ Maafkan aku, kak, mungkin Fikri benar. Mungkin kalau tidak
kuajak ke Jakarta, Mama takkan mengalami musibah seperti ini.”
“ Bukan, Raski, ini bukan salahmu.
Kalau kamu tidak mengajak Mama tinggal bersamamu, aku juga akan melakukan hal serupa. Aku juga akan mengajak
Mama tinggal bersama kami. Apakah jika tinggal bersama kami dan mengalami
kecelakaan, kamu juga akan menyalahkan kami ?” tanya kak Ranti.
Aku tahu kak Ranti ingin
menghiburku, ingin menghilangkan perasaan bersalahku. Aku menggeleng. Tak lama
kemudian Fikri masuk lagi. Da berdiri agak jauh dariku. Dia diam saja.
“ Penabraknya gimana ?” tanyanya
entah pada siapa.
“ Penabraknya lari, tapi polisi
sedang mencarinya.” Dena yang menjawab. Apakah Dena melaporkan kejadian itu?
Aku tak tahu.
“ Kenapa istrimu tidak ikut ?”
tanya kak Ranti pada Fikri.
Fikri memandang pada kak Ranti.
“ Mia sedang hamil,” katanya pelan.
“ Aku
juga sedang hamil, tapi Aku
bisa datang. Menantu macam apa itu. “ sindir kak Ranti, mungkin keki atas sikap
Fikri padaku tadi.
Comments
Post a Comment