CBS(5)

aku ingin sekali membuat wajah si penabrak seperti wajah Mama saat ini kalau kutahu atau ketemu penabrak itu.
Kumatikan ponselku agar batere-nya tak cepat habis. Kak Ranti duduk di kursi, entah berpikir apa, kedua matanya tampak menerawang.
Aku terbayang masa lalu kami. Dulu kami tinggal di Cirebon. Ayahku pelaut, keluarga kami keluarga nelayan. Tapi suatu hari Papa pergi melaut dan tidak kembali lagi. Kata orang, kapal Papa tenggelam dihantam ombak besar. Waktu itu usiaku baru 8 tahun. Sejak itu aku tak pernah bertemu lagi dengan papa. Masih hidupkah dia? Atau seperti kata orang, sudah meninggal ditelan gelombang.
 Mama mengambil alih tugas sebagai kepala keluarga. Mama punya sedikit keahlian menjahit dan bekerja pada seorang penjahit. Kak Ranti membantu Mama, sedangkan aku bertugas sebagai pengantar pakaian yang sudah siap di jahit ke toko pak Rody, sang pemilik Tailor. Begitulah keluarga kami bertahan hidup.  Fikri saat itu ingin kuliah, tapi Mama tak punya biaya.  Fikri  pergi ke Bandung untuk mencari kerja. Beberapa tahun kemudian ia menikah dengan mojang parahiangan yang kaya. Tapi ia acuh pada kehidupan kami. Jarang sekali dia pulang ke Cirebon. Mungkin kecewa karena Mama tak sanggup memberinya biaya untuk kuliah.
Mama dan kak Ranti akhirnya membuka usaha menjahit sendiri. Usaha kami berkembang karena jahitan Mama sangat rapi. Aku membantu membuat lubang kancing atau ngobras. Banyak pelanggan yang puas dengan jahitan Mama dan menjadi pelanggan tetap. Kak Ranti pendidikannya hanya sampai SMA, Ia menyatakan tak ingin melanjutkan lagi karena  tahu kondisi keuangan tidak memungkinkan.
Saat aku tamat SMA, perekonomian kami membaik karena Mama mendapat order jahitan baju seragam dari sebuah sekolah. Aku sebetulnya tak ingin kuliah, tapi Mama dan kak Ranti memaksaku supaya kuliah. Akhirnya aku berangkat ke Jakarta dan masuk ke sebuah Universitas yang tidak terlalu ternama tapi terjangkau. Aku belajar dengan rajin dan berusaha menyelesaikan kuliahku dengan sesegera mungkin. Aku tahu kesusahan Mama sehingga setiap sen yang dikirim oleh Mama untukku, kupergunakan benar-benar untuk keperluan kuliah dan biaya hidupku, tak pernah kubuang percuma. Jadilah aku orang yang sangat hemat dan serius dalam segala hal. Aku sedikit pendiam, kutu buku. Wajahku selalu tampak serius dan jarang tertawa, sehingga kurang pergaulan. Temanku hanya beberapa orang.
Saat aku tamat kuliah, kak Ranti menikah dengan bang Robby. Kak Ranti ikut suaminya  tinggal di Bogor karena bang Robby bekerja di sana. Ketika aku berhasil mendapat pekerjaan, aku segera  pulang ke Cirebon menjemput Mama dan membawanya tinggal bersamaku. Mulanya Mama sayang meninggalkan usaha jahitannya, tapi aku memaksanya berhenti karena Mama sudah tua, sudah saatnya pensiun. Mama ikut ke Jakarta dan tinggal di rumahku yang masih berstatus kontrak. Aku belum sanggup membeli rumah. Tapi jika berhemat, aku yakin suatu saat aku pasti bisa membelinya.
Di Jakarta, Mama tak pernah bisa diam. Ia memberhentikan pembantu dan mengerjakan pekerjaan rumah sendirian. Ia memasak, mencuci, merapikan rumah,  juga ke pasar. Aku selalu melarangnya mengerjakan semua itu, tapi Mama mengatakan dia malah sakit-sakitan kalau cuma duduk saja seharian tanpa kegiatan. Akhirnya aku angkat tangan.
Tahun lalu Dena mulai tinggal bersama Kami. Ayah Dena adalah adik Mama yang membuka usaha perkebunan di  Jambi. Dena dititipkan pada Mama untuk kuliah. Aku gembira atas kehadiran Dena karena Mama jadi punya teman di rumah, tidak kesepian lagi.
“ Ras, Raski…” sebuah panggilan membuyarkan lamunanku. Kak Ranti  berdiri di hadapanku.
“ Ada apa, kak ?” tanyaku.
“ Sudah subuh, Ras, pulanglah beristirahat. Semalaman kamu ngga tidur dan hanya memandangi Mama.” Kata kak Ranti penuh perhatian.
Apakah semalaman kak Ranti memperhatikan tingkahku yang terbengong di depan Mama ? “ Kak Ranti juga ngga tidur, Kak Ranti saja yang pulang untuk beristirahat.”
“ Kamu pulang dulu, suruh bang Robby ke sini, baru aku pulang agar ada yang menunggui Mama, bagaimana ?” tanya kak Ranti. Kupikir bagus juga usul kak Ranti. Aku mengangguk dan pulang ke rumah.

Aku tiba di rumah. Bang Robby sudah bersiap-siap mau ke rumah sakit bersama Dena. Kusampaikan pesan kak Ranti. Bang Robby mengangguk. Aku masuk ke kamar dan menjatuhkan tubuhku ke ranjang. Aku ngantuk sekali dan langsung tidur. 

Comments