GM(6)
Ya… Ya…”
Gara-gara Bella
menggebrak meja, semua mata beralih menatap mereka. Diamon
Legita tergugah minatnya mendekati mereka. Begitu juga Iris Chaniati.
“ Ada apa, Bel ?”
tanya Diamon.
“ Si item jelek ini ketangkap basah lagi menatap Rio
dengan penuh nafsu.” Adu Bella
“ Benarkah ?” tanya
Iris pura-pura gak percaya.
“ Masak omongan gua
kalian gak percaya ?” seru Bella. Sebetulnya, di hari biasa Bella, Iris dan
Diamon saling bersaing buat mendapatkan Rio.
Tapi, kalo sudah menyangkut Celin, mereka kompak ngerjain Celin.
“ Giring dia ke
toilet !” Diamon memulai. Irish Mengangguk. Bella menyetujui.
“ Ayo, ikut kami ke
toilet !” Iris mendorong dari belakang.
Bella menggapit
tangan Celin dari kiri. Diamon mengawal dari kanan.
Sampai di toilet
Bella melepaskan gapitan dan mendorong Celin
sehingga kepala Celin membentur ke dinding
dengan keras. Celin hampir terjatuh kalo engga berpegangan ke
dinding. Bela maju lagi menjambak rambut
dan menariknya dengan kuat. Celin mengaduh kesakitan.
“ Lain kali jangan nyoba nyoba nabrak gue dengan troli lalu pura-pura gak sengaja !” Bella
mengwanti-wanti.
Diamon mengambil
segayung air dan menyiramkan ke rambut Celin. Celin ingin berontak, tapi gak
berdaya, rambutnya masih dipegangi Bella.
“ Gak boleh ngelirik Rio saat membagikan kertas ulangan !” tindas Diamon.
Irish gak mau kalah.
Dia menyambar kain pel dan menekankan ujungnya
ke dada Celin.
“ Ngga boleh dekat dekat dengan Rio !” Irish mengintimidasi.
Celin meringis
sambil menahan sakit. Air mata mengucur
ke pipinya. Dia mengangguk
angguk dengan penuh kesakitan barulah ketiga
temannya melepaskannya. Dia mengaduh dan merintih, dadanya sakit, rambutnya kayak tercabut dari akarnya. Diamon memainkan
gayungnya dan tertawa kayak kuntianak. Setelah puas menyiksa
Celin, ketiganya berlalu dari toilet.
Celin menangis
sesenggukan. Dadanya terasa sakit. Bajunya basah dan kotor. Rambutnya
berantakan. Dengan menahan sakit Dia berusaha berdiri karena mendengar suara
bell yang sedang berbunyi. Dengan
tertatih tatih dia berjalan menuju kelas.
Sampai di kelas guru
sudah masuk. Semua mata tertuju padanya.
“ Celin, kenapa bajumu sampe basah dan kotor gitu ?” tanya Bu
Nia, guru Biologi.
Celin memandangi
Irish, Bela dan Diamon bergantian. Pengin dia mengadukan
perbuatan ketiga temannya. Tapi, kalau hal itu dilakukannya,
pulangnya dia akan mendapatkan azab yang lebih sengsara.
“ Anu, Bu. Saya
terjatuh di toilet “ jawab Celin sambil meringis. Bu Nia hanya setengah percaya.
Satu kelas ngetawain dia.
Bu Nia menatap
sekujur tubuh Celin yang babak belur. Ketidakpercayaannya makin full. Dia tahu Celin
sering dikerjain teman temannya. Tapi dia ngga
bisa berbuat apa-apa kalo ngga ada pengaduan.
Dilihatnya Celin sedang meremas kancing bajunya
dengan sikap salah tingkah.
“ Lain kali lebih
hati hati ya. “ kata Bu Nia dan menyilahkan Celin menuju tempat
duduknya.
Celin duduk sambil
menundukkan kepalanya. Sampai pulang kepalanya tetap ditundukkan. Dia gak mau guru lain melihat bajunya
yang kotor. Dia pengin menangis, tapi siapa yang peduli ?
Comments
Post a Comment