CBS(4)

Sampai di rumah Dena sudah menungguku. Begitu aku tiba, dia langsung bertanya.
“ Kok pulang, kak Ras ? Siapa yang menemani Tante Fani?” tanya Dena seakan-akan menegurku karena membiarkan Mama sendirian.
“ Kak Ranti dan bang Robby sudah datang, mereka menemani Mama. Aku pengen mandi dulu,” kataku dan langsung masuk ke kamarku mengacuhkan Dena. Kulemparkan kunci ke atas ranjang dan membuka pakaianku. Aku mandi dengan segera, berpakaia,n dan kembali menyambar kunci mobil.
“ Makan dulu, kak, ” panggil Dena ketika melihatku keluar dari kamar. Dia sedang duduk di meja makan. Tapi nasi di depannya sepertinya tidak disentuh, cuma diaduk- aduk.
Aku tak lapar, makanlah dulu, De.” Kataku.
Pasti dari siang kak Raski belum makan, makanlah sedikit agar jangan sakit.” kata Dena.
“ Tak ada selera, De.”
“ Kalau tak ada selera, kubuatkan segelas susu,  “ tanpa menunggu jawabanku Dena langsung ke dapur  membuatkan segelas susu yang kemudian disodorkan padaku. Kuterima gelas itu dan langsung kuhabiskan.
Aku kembali ke rumah sakit. Jaga rumah, De !” pesanku.
Aku ikut !” kata Dena.
“ Kamu belum makan.” Kataku pelan sambil melihat nasi di piringnya yang masih utuh.
Aku juga tak berselera, kak. Aku ikut menguatirkan kondisi Tante,” kata Dena. Aku terharu. Kulihat nasi Dena tidak berkurang. Dena dan Mama memang sangat dekat. Di hari-hari biasa keduanya teman ngobrol sepanjang hari.
“ Baiklah, mari kita berangkat.” Ajakku. Dena memeriksa pintu dan jendela, kemudian ikut denganku ke rumah sakit.
Bang Robby dan Kak Ranti terkejut melihat kedatangan kami. Kak Ranti berkeras menyuruhku pulang, bahkan setengah memaksa.
“ Dokter menyuruhku menemani Mama sedapat mungkin. Aku tak ingin ketika terjadi sesuatu terhadap Mama, aku tidak berada di sampingnya !” kataku membela diri.
Dena terhenyak mendengar perkataanku.
“ Itu… itu artinya…. Tante… Oh…Tidak, tidak… .” Meledaklah tangis Dena. Kini dia tahu Tante Fani-nya sudah tipis harapan  untuk kembali ke rumah dan ngobrol dengannya.
Kak Ranti  sibuk menghibur Dena. Akhirnya kami sepakat, bang Robby dan Dena pulang ke rumah, aku dan kak Ranti menemani Mama di rumah sakit. Dena berkeras tidak mau pulang, tapi setelah dibujuk-bujuk, ia bersedia juga pulang  bersama bang Robby.
Sepanjang malam aku bercerita pada kak Ranti tentang apa yang kudengar dari Dena, tentang kecelakaan Mama dan proses Mama masuk ke rumah sakit. Kak Ranti sangat geram pada penabrak yang melarikan diri itu, sama sepertiku. Kupandangi terus wajah Mama. Bengkaknya sudah merata ke seluruh wajah. Wajah Mama menjadi sangat menyedihkan, bahkan sedikit menakutkan. Jauh berbeda dari hari-hari biasa yang sangat ramah dan keibuan. Dalam kegeramanku, 

Comments