CBS (7)
Fikri tidak menjawab.
Aku kaget mendengar perkataan kak
Ranti. Sudah dua tahun kak Ranti dan bang Robby menikah. Kini baru pertama kali
hamil, dan semalaman kak Ranti tidak tidur.
“ Kak Ranti sedang hamil ?” tanyaku
sambil menggenggam tangannya.
Kak Ranti mengangguk. Aku ingin
mengucapkan selamat, tapi karena situasinya tak cocok, aku diam saja.
“ Kalau sedang hamil, kak Ranti tak
boleh kurang tidur. Kak Ranti pulanglah beristirahat. Sudah semalaman kak Ranti
tak tidur, nanti mengganggu kandungan kakak. Kujaga Mama di sini bersama Fikri.
Pulanglah untuk beristirahat, kak, “ kataku.
Bang Robby membenarkan kata-kataku.
Akhirnya kak Ranti bersedia pulang. Dena ikut mereka pulang. Tinggallah aku
bersama Fikri di ruang perawatan itu.
Aku diam saja. Fikri juga diam. Sejak kecil kami kurang akrab. Aku lebih akrab
dengan kak Ranti.
“ Bagaimana kondisi Mama menurut
dokter ?” tanya Fikri setelah terdiam cukup lama.
Kuceritakan apa yang kuketahui. Kugambarkan
seperti yang dikatakan oleh dokter
padaku. Kukatakan kondisi Mama cukup parah. Fikri agak terhenyak mendengar
penjelasanku. Dia tahu itu berarti kondisi Mama sangat parah. Tapi dia tidak berkomentar.
Siang itu Fikri keluar entah ke mana. Mungkin pergi makan siang. Aku
tak berselera. Aku menemani Mama sendirian. Kupandangi wajah Mama. Wajah Mama yang
membengkak dan tidak mirip Mama. Aku menggenggam tangan Mama, berdoa dan berdoa
semoga Mama sembuh, semoga Mama sadar, semoga ada keajaiban.
Jam 2 Fikri kembali. Dia duduk diam saja di
kursi. Agak lama baru dia berkata. “ Tidak pergi makan ?” tanyanya.
“ Tak ada selera,” jawabku.
“ Pergi makan, kujaga Mama. Kamu tak
tahu kondisi Mama akan berapa lama dalam keadaan begitu. Sebaiknya kamu jaga
kondisimu agar sehat sehingga bisa menunggui Mama. Aku tak bisa berlama-lama di sini karena aku harus kerja. Besok mungkin aku sudah harus pulang ke
Bandung.” Kata Fikri seakan-akan sengaja memberitahuku prihal rencana
pulangnya. Ia seakan-akan tidak peduli pada Mama, yang dipikirkan hanya kerjanya saja.
“ Ngga bisakah kamu tinggal lebih lama ?” tanyaku
masa bodoh apakah itu menyinggung perasaannya atau tidak.
“ Tidak. Aku barusan mengambil cuti. Kalau tak masuk kerja
nanti aku
kena pecat.” Katanya memberi alasan. Sebuah alasan yang masuk akal. Tapi, apakah
alasan itu tepat dikemukakan oleh seorang anak tertua yang ibunya sedang
menanti maut ?
“ Sesukamulah. “ kataku acuh.
“ Pergilah makan, jaga
kondisimu agar jangan sakit. Mama dari kecil sangat menyayangimu, sudah sepantasnya di kala sakit begini kamu
memberikan perhatian yang lebih
pada Mama.” Katanya.
Aku begitu tersinggung
mendengar perkataan Fikri. Apakah Mama tidak menyayanginya sehingga ia sanggup
berkata demikian? Apakah Mama membeda-bedakan kasih sesama anaknya ? Itu tak
mungkin! Kutinggalkan kamar itu dengan
segera, bukan karena aku lapar, tapi karena aku ingin menyingkir dari pertengkaran
dengan abangku. Aku tak ingin seandainya Mama sadar dan melihat kami sedang
bertengkar, Mama pasti sedih. Aku tak ingin Mama bersedih lagi. Aku berjanji
hanya akan memberikan hari-hari gembira untuk Mama jika Mama sadar nanti.
Aku keluar dari rumah sakit. Benar
kata Fikri, aku harus menjaga kesehatanku agar bisa menunggui Mama hingga Mama sadar,
hingga Mama sembuh. Oh Tuhan, berilah kami mukjijat, selamatkan nyawa Mama !
Aku masuk ke sebuah kios penjual
makanan. Aku
memesan nasi ramas dan teh botol. Aku berusaha makan meski nasi
ini terasa
bagai pasir di mulutku. Setiap kali aku menyendok nasi ke mulutku, nasi itu
berhenti di tenggorokan dan harus kudorong dengan air teh agar bisa masuk ke perutku.
Aku harus dua kali memesan teh tambahan untuk menghabiskan setengah piring
nasi. Aku harus sehat, aku harus kuat untuk menjaga Mama sendirian. Kak Ranti
sedang hamil, tidak boleh kurang tidur, tidak boleh capek dan letih. Aku harus
sehat untuk menemani Mama, tekadku.
Aku kembali ke ruang perawatan
setelah makan dengan cara paksa. Aku melihat Fikri masih duduk di tempat semula, tapi di tangannya
sudah tergenggam sebuah majalah yang entah kapan ia keluar untuk membelinya.
Aku diam saja. Begitu
juga dia. Aku kembali duduk di sisi Mama, memegang tangan Mama, berdoa dan
berdoa.
Jam 5 sore Fikri berkata padaku.
“ Aku numpang mandi dan istirahat
sejenak di rumahmu, nanti malam aku kembali.” Katanya.
Comments
Post a Comment