GM(4)
Celin tertawa
kesenangan. Senang banget dia bisa membuat Chaki keki. Pasti Chaki menganggapnya cewek
yang nyebelin. Untung aja dia bertetangga dengan Chaki. Tetangga yang cukup
jauh sih, karena beda dua blok. Chaki
orangnya juga gak gampang gampang bergaul. Tamperamental sih. Selain itu, mo tau julukan Chaki?
Einteins gadungan! Itu karena otaknya yang encer kayak
Einteins. Sedangkan Vevey dijuluki pulsa
berjalan karena kemana mana dia bawa hape buat jualan pulsa. Cuman dengan Chaki
dan Vevey saja Celin bergaul erat.
Kenapa? Ya karena cuman Chaki dan Vevey saja yang gak pernah meledeknya item
dan jelek.
*** ***
Sore jam 4. Rumah
Celin.
Chaki datang dengan
mobil bututnya dan dia membawa serta sepuluh lembar genteng berwarna merah.
Sepuluh lembar ? Emangnya dia kira seluruh genteng kamar mandi harus diganti.
Dasar Einsteins gadungan. Telinganya tuli kalee.
“ Aduh, Chak ! kok
sore banget.? “
“ Udah dimintai
tolong masih juga diomelin. Dasar payah, lo. Gue nyari toko matrial yg buka di hari libur gini susah tau. Bukannya dapet terima kasih, malah
diomelin. Taon baru, tau. Gak ada toko matrial
yang buka.” Chaki mendengus kesal.
“ Sorry Chak, gue cuman becanda doank kok !.
Kalo toko matrialnya gak buka,
darimana elu dapat gentengnya ?”
“ Minjem ama penjaga
gudang developer. “
“ Canggih ! Minjem
apa minjem ! Minjem apa nyamber ?” goda Celin. Dia tahu Chaki
kadang-kadang demen menghalalkan segala cara agar
tujuannya tercapai.
“ Elo gak usah tahu
deh. Yang penting kalo entar malam hujan elo gak kebanjiran. Titik ! Sekarang
tunjukkin mana yang bolong. Buruan! ” kata Chaki gak sabaran.
Celin mengedikkan
bahu. Dia berjalan ke kamar mandi yang tentu saja berada di dalam
kamarnya. Sambil lewat Chaki nyolong-nyolong ngamatin kamarnya.
Celin pura-pura gak tahu ulah Chaki ...
“ Oh, cuma dua
biji yang pecah. Kenapa gak ngomong dari
tadi. Capek capek gua nyo… eh ngangkatin 10 lembar genteng yang beratnya minta
ampun.” Omel Chaki. Omelannya sekaligus membuka
rahasianya. Benar kan tebakkan gue, genteng ini pasti disamber Chaki dari depan
gudang developer. Mumpung taon baru, satpamnya lagi teller, kata Celin dalam hati.
“ Kan udah gua
bilang, bolongnya segede ember. Maaf deh kalo omongan gue kurang jelas. Atau
mungkin telinga elo yang gak pernah dibersihin?”
Chaki masih mengomel
panjang lebar. Mereka keluar dari rumah. Celin meminjam tangga dari tetangga.
Chaki memanjat ke atap sambil membawa genteng dua lembar yang ternyata emang
benar beratnya minta ampun. Satu jam kemudian pembetulan itu baru
klar. Chaki menutupi plafon yang bolong
itu dengan triplek bekas. Air bak menjadi kotor. Celin mengurasnya. Alangkah
kagetnya ketika di dasar bak tergeletak sebuah batu seukuran bola.
“ Chak, elo kan kuat.
Tolong donk elo buang batu itu. “ kata
Celin ketika Chaki sudah selesai membenahi plafon. Chaki senang dirinya dikatain kuat. Dengan
lagak atlet angkat besi dia mengangkat
batu itu.
Aneh, batu itu
geming. Chaki mengelap kacamatanya yang
kotor dan mencoba lagi. Lagi lagi batu itu geming.
Chaki mengamati dari
dekat. “ Aneh, sepertinya nancap ke
dasar bak.” Kata Chaki sambil mencoba lagi.
“ Apa? Nancap ke
dasar bak? Huh sialan banget anak nakal yang melempari rumah gue sampai nancep,
gitu . Wah, parah banget.
Jadi, harus dijebol donk bak airnya..”
Celin mengeluh dengan hati kebat-kebit. Dia membayangkan pekerjaan
menjebol bak air itu pasti memakan
banyak waktu dan biaya.
Papa pasti
marah. Duh Sial banget nasib gue. Baru hari pertama tahun baru aja udah ketiban sial kayak
gini... gimana ngelewatin setahunnya?
“ Benar, Lin. Nancap
dengan kuat ke dasar bak. Ada
palu ngga ?”
Celin segera berlari
ke gudang. Tak lama kemudian dia menyerahkan sebuah palu yang sudah karatan. Mulanya Chaki
mengetuk batu itu perlahan saja. Batu
itu tetap geming. Makin lama ketukan Chaki makin kuat, tapi
batu itu tetap geming. Ternyata batu itu kerasnya minta ampun. Chaki
menggeletakkan palu itu kelelahan.
“ Keliatannya bukan
lemparan anak nakal. Juga bukan batu
biasa. Kerasnya minta ampun. Kayaknya… batu karang.”
Mungkin Chaki ingin
menutupi kelemahannya. Celin menampilkan mimik
kayak orang gak
percaya.
“ Kalo gak percaya,
silahkan nyoba deh..” tantang Chaki.
Celin meraih palu
yang tergelatak itu dan menggebuk batu itu dengan
keras. Ternyata omongan Chaki benar. Batu itu kerasnya minta ampun.
“ Benar kan,
kerasnya kayak batu karang.” Kata Chaki.
Celin menganggukkan kepala. Tangannya terasa sakit. Chaki meraih
beberapa serpihan batu itu dan memasukkan ke kantong bajunya.
“ Gua nyerah deh,
Lin. Panggil tukang bangunan aja. Lagian udah sore…aku mau pulang. ” kata Chaki.
“ Ya udah.” Celin membersihkan bak itu, kemudian memasang
penutup dan mengisi air hingga
penuh. “ Kayaknya gak bocor, Chak. Ya
udah deh. Biarin aja begitu. Manggil tukang
entar gua diomelin Papa. Baru ditinggal dua hari aja udah dilempari
batu. Gua malas diomelin, Chak. “ Celin
berjalan ke kulkas mengambilkan minuman buat Chaki.
Setelah meneguk minumannya Chaki permisi.
“ Eh, sisa genteng ini
gimana ?” tanya Chaki kayak orang bodoh.
“ Kembaliin aja,
Chak. Ngurangi dosa elu dikit kan mendingan.” Usul Celin.
Chaki angkat bahu
berlagak gak berdaya. Dia menghidupkan mesin sambil melambaikan
tangan.
“ Makasih, Chak !”
teriak Celin sekedar memberitahu tetangga bahwa cowok itu gak nginep di
rumahnya. Tetangga selalu curiga.
….
Comments
Post a Comment